Minggu, 13 Oktober 2019

     

AKU INGIN ENGKAU ADA
Oleh: Yabes Ottu

Aku ingin engkau ada
Seperti pintu kamarku yang selalu terbuka
Dikala aku ada
Tertutup dikala aku sedang tak disana

Aku ingin engkau ada
Seperti ranjangku yang menerima tubuhku
Dikala aku terjebak dalam kantukku
Dan melepas namun setia menunggu aku

Aku ingin engkau ada
Seperti minyak wangiku
Yang selalu kukenal ketika kucium harumnya
Walaupun wanginya
Terhimpit dalam banyaknya wangi-wangian

Aku ingin engkau ada
Yang selalu ada
Dan yang selalu aku kenal
Walaupun semua seakan tak ada



Jumat, 11 Oktober 2019


-TERIMKASI SENJA-

Terimkasih senja yang indah
Warna merah tak membawa gerah
Sejuk tapi membawa dingin pada raga
Jiwapun ikut merasa

Teriakasih senja yang indah
Hadir dalam suasan resah
Tapi tak gagabah
Tak menghadirkan salah

Selamat jalan senja
Aku akan merindukan cerita kita
Tapi Ini adalah takdir
Dan aku akan tetap tegar
Harapku engkau juga tetap mekar

Selamat jalan senja
Kepergiaan senja meninggalkan rindu
Mungkin rebulan akan mengobati
Mungkin juga akan menemani






        
DALAM SUJUTKU PUN AKU BERDOSA
Oleh : Yabes Ottu

"Sadar dalam lemah". Ya, dalam sujut tak beraturan disitulah awal aku mendapati jiwa dan ragaku dalam gelapnya dosa.

Dalam syair yang aku lafalkan terselip berlaksa kegelapan. Kutemui diri ini dalam "sujut tak beraturan".

Entahlah, kapan dan dan dimana aku memulai merefleksikan hal sederhana ini. Mungkin disaat mentari tak lagi bersinar atau mungkin rembulan berisitirahat dari aktifitas malamnya atau mungkin dalam kesunyianku.
Akupun tak tahu namun yang pasti bahwa dalam melafalkan puisi tobat pada Tuhan disitulah dosa dimulai.

Aku terdapat dalam kelalaian dalam memenuhi janji tobat itu.

Dalam sujut aku berdosa. Terjebak dalam puisi yang kunaikan pada sang pemilik jiwa serta raga.

Ah, aku malu..
Malu sekali pada diriku yang penuh noda duniawi yang sempat kugoreskan pada dinding jalan kehidupan.

Gelisah tak menentu. Aku tak lagi mampu bebas. Ya, aku terjebak dalam noda kehidupan yang aku ciptakan sendiri.

Dalam kesunyian dibawah kolong lagit bentukan jemari kasih Tuhan aku terjebak tak mampu memilih. Tersendat dalam jalan-jalan ku sendiri.

Oh, malangnya hidupku. Dalam sujut doapun aku berdosa. Dalam pujian pada Sang Allahpun aku menyelipkan noda hitam.

Aku terjebak dalam sujut tak beraturan.

Antara takut dan harapan pun terombang-ambing.

Takutku adalah jika sujutku tak lagi dipandang oleh Sang Ilahi. Takutku jika nyanyainku tak lagi di nikmati Tuhan.

Harapanku adalah Tuhan mendengar keluh kesah manusia fana.

Dua paham yang saling menuduh. Saling merongrong ingin menang dan yang pasti aku yang terjebak.

Jika aku memilih maka disitu dosa dimulai. Aku pasti lalai dalam cobaan iman.

Jiwa berkata "jangan takut, turutilah kebenaran".

Ragapun membalas "Tapi aku lemah".

Jiwa dan raga berkelahi dalam satu rumah kehidupan.

Mereka bertengkar dan kehidupan terbeban. Antara mati dalam dosa atau hidup dalam dosa. Ataukah dosa mati dalam hidup.








Kamis, 10 Oktober 2019


SAHABAT AKU RINDU
Oleh : Elisabet Hewul


Halo kawan juang

Apakah kau baik-baik saja?

Kapan terakhir kali kita bertemu walau hanya sekedar saling menanyakan kabar?.

Mungkin semenjak perpisahan itulah awal rindu ini tergoreskan.

Waktu berjalan tanpa henti
Langkah kaki kitapun melangkah tak henti
Mengarungi gelapnya malam jalan kehidupan menjemput mentari pagi kesuksesan.

Teman aku ingin bercerita tentang kita.
Tentang jalan yang pernah kita lalui bersama.

Sahabat aku rindu bisikan manismu yang selalu bergema di telingku dikala aku tak mampu memilih.

Rasanya sudah lama sekali sahabat.

Berawal dari kesibukan kita hingga membalas pesan singkat pun terkadang terabaikan.

Dan sekarang terselip ragu untuk mengawali pembicaraan. Aku ragu harus mulai dari kata apa sehingga membuatmu bercanda lagi seperti waktu-waktu yang lalu.

Sahabat aku rindu. Rindu canda lepasmu.

Aku rindu masa-masa dulu dikala kita masih bersama.

Sahabat aku rindu untuk mendatangimu ketika bosan datang dan mengajakmu untuk jalan-jalan tanpa tujuan.

Sahabat aku rindu.

Ketika akuu ingin menangis dan aku akan mencari suasana ceria yang pernah kita ciptakan agar aku punya alasan untuk kembali tersenyum lepas.

Sahabat aku benci dengan jarak pemisah ini. Pilu selalu menghatuiku kini.

Sahabat sungguh aku merindukan kata-kata motifasimu dikala aku terjebak dalam ruang masalah kehidupan.

Sungguh, aku rindu


Kini, sudah empat tahun lamanya sejak kita saling bertatap muka dan kini tak kutemukan lagi senyum manismu.

Bahkan aku mulai takut akan melupakan suaramu karena sudah bertahun-tahun lamanya kita tak saling telepon. Pesan singkatpun tak lagi kubaca.

Sahabat terimkasih sudah hadir dan memberi cinta serta rindu yang dalam.

Sahabat, ini curahan hatiku untukmu. Curahan rindu yang tersimpan rapih dalam hati manis.

Sahabat, aku rindu
Sahabat, apa kabarmu disana?.
Harapku engkau baik-baik saja



Penulis :Yabes Ottu

Senin, 07 Oktober 2019


AKU DAN SUKSES KELAK AKAN SERASI
Oleh: Merfa Nelci Taebenu

Aku pernah berjuang
Kekalahan pernah kutantang
Hingga bermimpi untuk menang
Namun kembali kalah, dihantam karang

Tapi tidak, itu masa lalu
Bersama goresan hitam yang berlalu
Semangat masih kupeluk erat
Jalan jaung kembali kuralat

Detik, demi detik
Ombak hitam kembali menggeratak
Namun dengan semangat yang apik
Menyambut pelangi dihari esok

Tak peduli
Aku hanya imgin bermimpi
Cita-cita menjadi inspirasi
Aku dan sukses kelak akan serasi

Sujut doa
Kujadikan senjata
Syukur kujadiakan amunisi
Langkah sukses semakin pasti


MELODI KASAR
oleh: Yabes Ottu

Mereka tak peduli mengumbar
Melodi kasar
Terdengar merdu namun
seolah ditampar
Katanya ini bagian dari kultur


Jiwa terbakar hebat
Saat mereka membakar semangat
Namun jiwa merasa sekarat
Rasanya bengis walau sesaat

Evolusi tak searah
Membawa perubahan tak berakar
Jiwa kecil kembali ditindas kalah
Aku berlutut tak mampu berpikir

Debat kultur
Namun tak beretika
Katanya pemikir
Namun terdengar tak memiliki akar




HARTA DARI AYAH UNTUKKU
Cerpen Karangan: Yabes Ottu
Kategori: Cerpen Keluarga


Malam ini aku dan keempat saudara ku serta Ayah dan Ibu duduk mengelilingi meja makan yang diatas meja tersebut telah tersedia hidangan makan malam seadanya yang telah disediakan oleh ibu.

Dari sudut meja makan dengan suara yang lembut, ibu mempersilahkan untuk kami menikmati hidangannya. Kami bergantian mengambil hidangan ini diatas meja sederhana diruang keluarga yang berukuran kecil kami yang kami miliki. Suasan bahagiapun semakin lengkap ketika adik bungsu ku bersedia memimpin doa makan kami dengan mengejakan doa Bapak kami. Selesai adikku memimpin doa makan, kami langsung menikmati hidangan sederhana yang disediakan oleh ibu yang tidak kalah lezat dengan makan restoran bintang lima.

Setelah selesai menikamti santap makan malam seperti biasa aku dan ayah masih duduk bersama. Ya, setidaknya sedikit mengisi waktu malam dengan mendengarkan kata-kata nasihat dari ayah untukku dan menikmati kopi panas yang telah disipakan oleh ibu. Sedangkan ibu dan keempat adik-adikku memilih untuk istirahat karena lelah dengan aktifitas seharian.

Setelah ibu dan keempat adik-adiku menuju kamar tidur. Kini hanya aku dan ayah yang masih duduk diruang keluarga kecil kami.

“Aku adalah ayahmu dan kamu adalah putra sulungku dan engkau yang akan mendapatkan tenagaku.” Ucap laki-laki yang kerap disapa Bapak Mizz itu.

Perkataan itu sedikit sederhana namun membuat aku terharu dan sedikit membuncah. Pikirku ayah mungkin masih kesal karena tadi siang aku sedikit lalai dalam mengerjakan pekerjaan yang ditugaskan keluarga padaku sehingga ayah harus turut membantu dalam menyelesaikan.

Dengan tatapan yang tajam namun terlihat dari balik kelopak matanya meneteskan air kasih sayang.

Katanya lagi padaku "Erki, engkau yang akan memiliki segala yang aku punya saat ini".
Aku yang duduk di kursi tua itu semakin membisu seolah disihir oleh kata-kata ayahku.
Aku ingin sekali mengucapkan terimkasih namun aku tak ingin ucapakanku membuat ayah berhenti mengucapkan kata-kata berkatnya padaku. Aku hanya bisa terdiam menatap ayahku dengan penuh kasih. Ayahku yang tadinya berbica kembali terdiam dan menyeka matanya karena air matanya mengalir membasahi pipi yang sedikit keriput itu.

Setelah terdiam sejenak ayahku melanjutkan pembicaraannya. Kali ini ia berkata " nak, maksud dari ucapan tadi bukan harta karun yang akan aku berikan kepadamu namun yang aku maksudka adalah tenagaku. Dengan sisa tenaga yang Tuhan masih percayakan kepadaku serta kereta lapuk yang kita miliki, aku akan menyelusuri setiap lorong-lorong keramaian kota untuk mencari besi tua untuk menukar dengan sepeser rupiah ke juragan besi tua supaya engaku serta adik-adikmu bisa sekolah dan selebihnya untuk membiayai kebutuhan keluarga kita".
Aku yang mendengarkan apa yang baru saja dikatakan ayahku itu semakin membisu, namun air mataku mengalir mengisyaratkan bahwa aku sedang mengucapkan terimkasih kepada ayahku.

Ayahku yang sempat melihat air mata ku itu tak ingin berhenti berbicara.

Lanjut ayahku berkata " kita keluarga miskin nak, namun aku tak ingin kelak engkau kekurangan seperti aku. Yang aku inginkan sekarang adalah engkau serta adik-adikmu harus sukses".

Aku yang mendengar, seakan ingin berbicara namun baru saja aku menarik nafas dan berbicara, ayah memotong. Kali ini ia berkata, "kuatkan hatimu karena aku masih bisa berjuang karena tenagaku yang masih tersisa akan aku berikan sebagai harta untuk menjamin masa depanmu serta adik-adikmu".

Mendengar itu, aku berkata pada ayahku " ayah, apa yang bisa aku lakukan untuk membantu ayah?".

Ayahku yang duduk di depanku dengan tatapan yang terlihat tulus ia berkata "Erki, aku tak meminta balasan darimu yang aku minta adalah tetaplah berjuang dalam masa pendidikanmu dan jangan lupa membawa namaku dalam setiap doa tidur malam mu, supaya Tuhan dapat selalu membuka jalan bagiku dalam setiap pekerjaan ku supaya dapat membiayai engkau serta adik-adikmu di bangku pendidikan supaya kelak engkau serta adik-adikmu sukses". Kali ini aku hanya bisa meneteskan air mata pilu.
Dan hanya mampu berkata "Terimkasih ayah untuk perjuanganmu. Doaku memelukmu selalu ayah".

Ayahku yang tak kuasa melihat aku meneteskan air mata . Dia kembali mengancungkan kepalan tangan kiri sebagai isyarat untuk tetap semangat.
Lanjut Ia berkata "nak persiapkan keperluan kuliahmu setelah itu kamu boleh istirahat karena besok kamu harus pergi ke kampus pagi".

Aku yang tadinya duduk disebelah ayah lansung bergegas menuju meja belajar kecilku yang dibuat oleh ayahku sendiri dari sisa-sisa papan yang diminta dari tetangga rumahku. Karena aku tahu ayahku tak ingin melihat aku menangis sehingga ia mengalihkan suasana dengan menyuruhku mempersiapkan keperluan untuk kuliah besok.

.
Semoga kisah ini bermanfaat bagi aku dan kamu. Tuhan Memberkati Kita semua😊


IZINKAN AKU MENGGORESKAN CINTA
Oleh: Yabes Ottu

Apa aku harus berkelana
Seperti hati yang menginkan cinta
Bagaikan debu ditiup angin senja

Inginmu tak bolekah aku terjebak
Ataukah aku harus berhenti sejenak

Jika ada ruang untukku
Maka biarkan cinta disabut oleh tulusmu

Jika ada tempat
Bolekah kehadiranku disambut
Walau sekedar istirahat sesaat
      
Jika aku mendapat kerelaan
Akupun turut menggoreskan kenangan
Turut melukiskan cinta pada kalbu

Jika fajar cinta masih terbit
Maka akupun ingin menjadi terhebat

Izinkan aku menjadi menjadi pena
Serta engkau laksana kertas sastra
Aku hendak melukisakan sebait cinta
Sebait syair tentang cita-cita dan cinta

Semuakan ku lukis pada puisi cinta
Tentang kau yang menjadi cita-cita




CINTA HANYA BERMODALKAN HATI
Oleh: Yabes Ottu

Cintamu padaku
Bagaikan menulis pada langit biru
Sulit ditebak disetiap sudut yang membiru

Jelas, namun tak terjangkau
Hanya mampu dinikmati oleh mata
Tapi tak berarti bagiku

Inikah cinta
Yang dipisahkan oleh dinding jarak
Cinta yang bermodalkan hati

Namun itu sungguh berarti
Karna ku yakin kaulah cinta sejati
Namamu yang terlukis abadi
Rasa yang tergores kekal pada dinding hati

Selasa, 24 September 2019

DERAI DI AKHIR BULAN JUNI

DERAI DI AKHIR BULAN JUNI
Oleh : Yabes Ottu

Berderai diakhir bulan juni. Aku yang menghadirkan derai namun tak mampu kuterima.

Tenang bagai angin yang silir semilir namun membawa aku pada jurang kematian yang pilu.

Mungkinaku yang salah karena terlalu jatuh dalam jurang rasa. Aku yang terjebak dalam kisah semu.

Aku terjebak pada rasa yang tak terbalas.
Cinta yang tak dianggap.

Bagaikan cinta antara matahari dan bulan yang tak pernah bertemu.

Bagaikan cakrawala dan daratan yang tak bergandeng walau ada rindu yang tersimpan.

Bagaikan siang dan malam yang saling memiliki namun tak ingin bertemu.

Aku yang salah.

Aku yang tak mampu berpikir sebelum memulai. Hanya mampu berhalusinasi tentang awal kisah namun tak mampu melihat akhir yang penuh pilu.

Apakah kisah derai akhir bulan juni adalah kasih.
Ataukah hanya akan menjadi kisah yang akan dikenang.

Kini hanya cerita dalam bayang semu namun kan kulukis rapi pada dinding kalbu

Kan ku ukir sebagai kenangan yang pernah aku lalui dan akan aku rintis jalan baru yang terbaik bagiku.


Jumat, 09 Agustus 2019

-RINDU MENGUSIK-
Oleh : Yabes Ottu

Kesepian kembali mengejek
Di sela-sela malam
Kekasih yg kurindu tak datang mengajak
Aku kian tenggelam dalam lautan rindu

Mencoba melihat dari sela-sela jendela
Rintik hujan semakin membasahi taman
Jatuh berteman tapi aku tak sendrian
Malupun kembali menghatui sukma

Duduk bersila dibawah tenda biru
 Hanya berteman secangkir kopi pahit
Kisah kemarin kembali menyengat
Kalbupun kembali ditawan rindu

Rindu mengusik kalbu
Jiwa yang hampa tak mampu menerima
Namun rindu tak peduli tetap memburu
Seakan siap menerkam mangsa

Kupang, 09 agustus

Senin, 05 Agustus 2019


SURAT CINTA UNTUK MAHASISWA/I BARU STAKN KUPANG TAHUN 2019

Oleh : Yabes Ottu

Syalom.
Doaku menyertaimu selalu kawan, harapku semoga kawan baik-baik saja disana, di medan juang menuju cita-cita.

Hadirmu dalam wadah stakn kupang menjadi kebanggaan kita bersama. Disini kita akan berjuang bersama menemui harapan kita kawan. Kita akan bergandeng tangan, saling mengisi dalam satu juang dalam sejuta harapan yang terpendam dalam benak kita.

Solidaritas menjadi harapan kita. Gotong royong menjadi kekuatan kita di dalam Tuhan Yesus yang adalah sang kepala gerakan perjuangan kita dalam menemui cita-cita kita.

Percayalah kawan bahwa disini kita tidak akan sepenuhnya bahagia karena aku
percaya bahwa sebelum menuju pelangi kita akan menemui hujan badai yang dasyat yang bisa menguras tenaga serta pikiran kita. Pada akhirnya badai akan mengakui keberadaan pelangi. Ya, air mata akan mengakui keberadaan senyum bahagia.

Jangan takut berjuang kawan, jangan takut pula untuk meneri ria karena ada aku dan ada mereka yang siap membantu dan terlebih ada Tuhan Yesus sebagai sang penolong yang akan setia merangkul serta menolong mu kawan.

Kawan, kini engkau bukan siswa kecil tapi sebagai siswa besar atau mahasiswa. Jangan bungkam ketika kawan menemui kejanggalan pada wadah Stakn kupang. Jangan berdiam tapi bersuaralah ketika kawan menemui ketidakadilan disini bahkan diluar sana karena suara serta perjuangan mu akan diemaskan ketika perjuanganmu adalah untuk kebenaran serta keadilan.

Harapku kawan dapat menjadi mahasiswa yang kreatif dan inovatif. Dengan rendah hati aku mengajak kita semua agar menjadi agen perubahan bagi Gereja dan Bangsa kita terkhususnya Nusa Tenggara Timor tercinta.

Kawan ada satu rahasia lagi yang aku ingin sampaikan kepada kawan. Aku tahu tidak semua disini tinggal dengan orang tua karena pasti ada diantara kita yang tinggal dikontrakan.

Jika kawan tinggal di kontrakan dan jauh dari orang tua maka berjuanglah melawan hawa nafsu muda demi jalanmu menuju pelangi bahagia tidak menjadi sulit. Disini kawan akan merasakan pahitnya hidup. Makan nasi tanpa sayur akan selalu kawan alami. Kekurangan uang saku akan sering kawan hadapi. Tapi ingat kawan, kalau engkau seorang wanita cantik yang kekurangan di dalam kontrakan dalam sehari makan jangan menjual dirimu demi sepeser rupiah demi mendapatkan sebatang lipstik dan sebotol krim handbody. Engkau punya teman yang bisa engaku meminjam darinya dan engkau bisa kembalikan disaat engkau sudah memiliki. Tapi jika tubuh indahmu engkau gadaikan demi memenuhi kebutuhan ragamu maka sekali-sekali engkau tak akan memilikinya lagi walaupun engkau sudah memiliki segalanya dikelak nanti.

Dan untuk engkua kawan laki-laki yang tinggal di kontrakan maka jangan merasa bebas dengan kesempatan di kontrakan. Jangan melakukan apa yang tidak perlu dilakukan yang akan memperlambat anda untuk menemui cita-cita mu kawan.

Aku tahu kalau kawan yang datang dari desa pasti datang dengan misi besar dari keluarga, ya aku tahu itu karena aku juga adalah putra titipan dari desa yang datang untuk mencari ilmu dikota sehingga pada waktu yang ditentukan Tuhan aku dan kawan dapat kembali dan merawat serta membangun tanah kelahiran.

Dan untuk kawan yang tinggal dengan orangtua, bersyukurlah karena kawan tidak jauh dari didikan orang tua. Bersyukurlah karena nasi mu selalu berteman sayuran, bersukurlah karena uang sakumu tidak pernah habis karena selalu diberi setiap pagi.

Pada akhirnya aku berharap, juang aku dan juangmu tidak berhenti di tengah jalan tetapi tetap bergandeng tangan dalam menyongsong masa depan yang cerah yang telah Tuhan sediakan bagi kita.

STAKN KUPANG adalah rumah keduamu, Dosen adalah orang tua kita disini. Senioritas adalah kakak kita. Junior adalah adik kita. Mari menjadi agen perubahan untuk diri kita dan orang lain di sekitar kita dan di STAKN Kupang yang kita sama-sama cintai.


-KITA BELUM SELESAI-

Kita belum selesai kawan
Kita tidak hanya selesai di daratan
Di ujung sanalah cita-cita
Pelangi harapan kita bersama
Tetaplah memeluk harap
Jangan merana

Kita belum selesai sahabat
Bersama kita akan menjadi hebat
Berkolaborasi menjadi kuat
Menggapai cita-cita bersama

Kita belum selesai kawan
Sebab Mutaira ada dibalik karang
Tetaplah kejar azam yang membentang Jadilah bintang
Jangan suram bagai awan

Kita belum selesai
Walaupun tidak menjadi bintang
Yang berpayung rembulan
Tapi tetaplah berjuang
Jagan mundur apalagi roboh

Sobatku Jagan gentar
Kita adalah pucuk segar
Tetaplah megar
Malar segar
Walau panas membakar
Tetaplah berdiri tegar
Sampai dapat gelar
-SANG SAKA MERAH PUTIH-
Oleh: Yabes Ottu

Pusaka merah putih
Adalah gambarang berlakasa darah
Yang mengalir membasahi bunda pertiwi
Demi kelak bahagia anak cucu pribumi

Sang saka
Berkibar mengudara
Karena pahlawan yang gagah perkasa
Walau maut merebut jiwa dan raga

Kain berwarna merah putih
Merupakan kain pembalut bunda pertiwi
Yang sejak lama pertiwi di telanjagi
Serta diludahi
Bahkan di perkosa oleh para penjajah

Tepat tanggal tujuh belas agustus
Sang saka berkibar bebas
Walau tak sedikit darah yang amblas
Oleh para pembunuh bengis

Tiang sejarah
Tetap menopang sang saka merah putih
Jiwa 'jas merah'
Tetap dalam kalbu berdiri kokoh

Kini aku bebas
Karena para pejuang yang berjuang keras
Mengibarkan sang saka di samudra lepas
Melawan amarah arus lautan biru







Minggu, 28 Juli 2019

Oleh: Yabes Ottu -KISAH DI PERTENGAHAN BULAN JUNI-

CERPEN
Oleh: Yabes Ottu


-KISAH DI PERTENGAHAN BULAN JUNI-

Pertemuan yang tak terduga oleh aku dan dia. Datang disaat aku menemui jalan buntu dan tak tahu kemana aku harus beranjak keluar dari kisah pilu yang baru saja menimpaku beberapa saat lalu. Datang dengan senyum sederhana namun membangkitkan semangat juang. Jiwa yang hancur luluh dalam luka bekas bengis yang dilukis ole dia yang telah berlalu.

Dia datang mengajarkan tentang bagaimana mencintai tanpa memandang latar belakang. Dia tak peduli latar belakang. Yang dia inginkan dariku hanya kasih yang tulus karena menurutnya materi akan diperoleh tapi kasih yang tulus tak gampang diperoleh serta dimiliki.

Dia hadir mengajarkan tentang pentingnya mengucapkan selamat tidur di setiap malam serta betapa pentingnya melafalkan namanya dalam setiap doa pada Sang pencipta.
Hadir Memberikan dukungan untuk tetap ada dalam medan juang demi menggapai cita-cita.

Cerita yang dimulai dipertengahan bulan juni kian berdiri kokoh diatas dasar kasih. Diatas kasih yang diajarkan oleh Kristus yaitu mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran.
Karena kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

Kadang air mata mengalir mengiring jalan kami, kadang pula terlihat senyum bahagia yang tergambar jelas di wajah namun kami menerima dan menyukiri bahwa semua yang terjadi karena seizin Tuhan.

Jalan kami tidak mudah tapi saling menyapa dan saling mendukung untuk tetap berjuang menjadi kekuatan kami. Kami tahu bahwa pada akhirnaya badai akan berhenti dan mengakui keberadaan pelangi, ya pada akhinya air mata akan mengakui keberadaan senyum bahagia.

Dia sering berkata "KITA ADA UNTUK SALING MENDUKUNG BUKAN UNTUK MENGHANCURKAN". Kadang aku merenung, siapakah aku sehingga dia begitu mencintaiku, kadang pula aku berpikir mungkin dia terlalu bodoh karena mencintai orang seperti aku. Tapi dia sering pula berbisik manja di telingaku, katanya "AKU MENCINTAIMU BUKAN ATAS DASAR MATERI TAPI ATAS DASAR KASIH" Ah, kalau demikian cintanya kepadaku yang begitu tulus, maka akupun ingin mecintainya dengan tulus. Mencintainya seperti bagaimana aku mencintai diriku sendiri karena kelak jika Tuhan mengijinkan maka dia akan menjadi belahan jiwaku dan membagun bahtera kecil kami bersama keluarga kecil kami nantinya.

Hari berganti hari, kisah yang tumbuh di pertengahan bulan juni kian tumbuh semakin kokoh diatas dasar kasih dan diatas dasar tiga kewajiban atau yang biasa kami sebut Tri Darma juang, yaitu;
1.cita-cita
2.keluarga
3.cinta
Tri darma yang berdiri kokoh diatas dasar Kasih Kristus.

Katanya kepada ku, jo ( panggilan kusus untuk kami, "jodoh") tri darma ini harus sama-sama jalan supaya kehadiran hubungan kita menjadi berkat bagi kita dan orang lain disekitar kita.

Terimakasih Mawar
Terimakasih jo, semoga ketulusan selalu hidup dalam juang kita.


Kupang, 27 juli 2019

Rabu, 24 Juli 2019


-TERIMKASI SENJA-

Terimkasih senja yang indah
Warna merah tak membawa gerah
Sejuk tapi membawa dingin pada raga
Jiwapun ikut merasa

Teriakasih senja yang indah
Hadir dalam suasan resah
Tapi tak gagabah
Tak menghadirkan salah

Selamat jalan senja
Aku akan merindukan cerita kita
Tapi Ini adalah takdir
Dan aku akan tetap tegar
Harapku engkau juga tetap mekar

Selamat jalan senja
Kepergiaan senja meninggalkan rindu
Mungkin rebulan akan mengobati
Mungkin juga akan menemani





Sabtu, 06 Juli 2019


TERBANGLAH INDONESIA

Oleh : Yabes Ottu

Terbanglah Ibunda pertiwi
Gapai cita-cita mu bersama bintang
Tunjukkan pada dunia
Bahwa engkaulah pemenang
Bunda pertiwi engkau bisa

Terbanglah Indonesia
Melangkahlah Bunda pertiwi
Sayapmu adalah rakyatmu
Terbangalah bersama sarung merah putih
Takkan ada yang bisa membekukanmu

Terbanglah indonesia
Majulah bunda pertiwi
Engkau bebas berekspresi
Kalahkan ganasnya lautan lepas
Taklukan samudra biru
Jadilah singa muda yang haus kemenagan

Melangkahlah dengan bebas tanpa takut indonesia bangsa yang hebat
Bangsa yang menghargai perdamaian

Dasar pijakan mu semakin kokoh
BhiNeka Tunggal Ika adalah kuatmu
Jangan mengalah
Apa lagi kalah

Yabes Ottu -HAMPIR LELAH-


-HAMPIR LELAH-
Oleh: Yabes Ottu
Kupang 29 juni 2019

Aku lelah, hampir juga kalah
Panas suryamu tak mampu ku tepis
Mawar yang mekar semakin layu
Semua karna lakumu

Sejuta rasa lelah
Berlaksa rasa jenuh
Bersamaan menghajar jiwa
Ditamba amarahmu yang kian membara
Sungguh, aku seakan ingin menyerah

Aku bosan dengan tingkahmu
Yang kadang memicu amarah
Tapi sungguh, aku hanya pasrah
Aku tetap berdiam seribu bahasa
Semua karena rasa cinta padamu

Aku tahu, aku tak sempurna
Tapi aku punya kasih yang tidak tercela
Bahkan tak bisa juga kau temui disana

Demi kamu aku menjaga cinta
Untukmu pula aku mengasuh luka

Kemarilah sayang
Rawatlah mawar yang kian layu
Bawalah embun kasihmu
Peliharalah, biarkan ia berkembang






-KITA BELUM SELESAI-

SAJAK KELAS B/II

Kita belum selesai kawan
Kita tidak hanya selesai di daratan
Di ujung sanalah cita-cita
Pelangi harapan kita bersama
Tetaplah memeluk harap
Jangan merana

Kita belum selesai sahabat
Bersama kita akan menjadi hebat
Berkolaborasi menjadi kuat
Menggapai cita-cita bersama

Kita belum selesai kawan
Mutaira ada dibalik karang
Kawan
Tetaplah kejar azam yang membentang Jadilah bintang
Jangan suram bagai awan

Kita belum selesai
Walaupun tidak menjadi bintang
Yang berpayung rembulan
Tapi tetaplah berjuang
Jagan mundur apalagi roboh

Sobatku Jagan gentar
Kita adalah pucuk segar
Tetaplah megar
Malar segar
Walau panas membakar
Tetaplah berdiri tegar
Sampai dapat gelar

-MERAH PUTIH JADI PEMBUNGKUS JENAZAH-

Oleh: Yabes Ottu

Rembulan kembali menagis
Mega hitam menghukum tak melepas
Bintang berlarian seakan bersembunyi

Terdengar tangisan di bumi pertiwi
Anak pribumi menjerit
Semuanya terhimpit

Rumah merah putih hampir roboh
Adik-kaka terpisah
Saurada-saudariku gugur terbunuh
Merah-putih jadi pembungkus jenazah

Kaka tak ingin mengalah
Adik tak ingin kalah
Tak lagi ada cinta kasih
Ah, ini lantaran sifat egois ayah

Ah, ayah engkau egois
Demi kekuasaan enkau mengadu domba
Mengapa bertindak melawan Tuhan?
Tak takutkah akan murkah Tuhan?

Oh, bunda bunda pertiwi
Kemana aku harus berlindung ibu
Kakanda ingin mengusirku dari rumahku
Ayahku tak lagi peduli padaku

Tanyaku pada rerumputan
Apa yang sedang terjadi kawan?
Dia tak menjawab, hanya bergeleng

Sejenak aku merenung
Mungkinkah inilah takdir ilahi?
Ah, kalau betul seperti itu
Lalu siapa yang siap melawan



PELUKLAH JIWA KETULUSAN- Oleh : Yabes Ottu




-PELUKLAH JIWA KETULUSAN-
Oleh : Yabes Ottu


Tak perlu sedu hati
Tak perlu menangis
Kembalikan rona indahmu
Jangan terbitkan sesal dalam kalbu

Hai sobat kecil, ini dunia bukan surga
Syukuri hidup apa adanya
Lukiskan sakinah dalam sukma
Biarkan sukmamu bergembira

Jangan sesalkan takdir ilahi
Tak boleh kau salahkan dunia ini
Lepaslah luka batin bersama senja
Peluklah jiwa ketulusan
Biarkan nuranimu bersih tak tak ternoda

Kawan, setiap ingin takkan nyata
Namun harap jangan hilang
Tetaplah menghadap bintang
Jadilah gemilang
Jangan langkah mu tak seirama

Tak perlu merintih
Jangan mengalah
Sebab engkau tak salah
Engkau hanya perlu mencoba

Biarkan fajarmu bercahaya
Taklukan dunia
Biarkan jiwamu megar
Tak boleh terlantar

Peluklah ketulusan
Tetaplah mendekap harapan











-HAMBA MEMOHON AMPUN- Oleh : Manusia Berdosa



-HAMBA MEMOHON AMPUN-
Oleh : Manusia Berdosa

Sinar surya telah bertolak
Rembulanpun kian merapat
Insan yang punuh lemah
kembali mendekat takhta Allah

Nurani yang kekal
Tak kuasa melihat raga nan padat dosa
Kematian abadi mengusik atma

Terdengar jeritan tangis di dalam sukma
Memohon ampun pada sang kuasa

Oh, Tuhan Yang penuh kasih
Hiduplah Engkau ya Allah
Ijinkan hamba mendapat asih
Hamba tak kuasa menanggung neraka
Hamba pula tak layak menghadap surga

Yang mulia, ya Engkau yang suci
Izinkan hamba memiliki nurani nan suci
Biarkan sungai darah ibamu mengalir
Menyucikan raga serta jiwa ini

Yang mulia, ya raja Sorgawi
Hamba yang durhaka berharap ampun
Kasihanilah ciptaanmu ya Tuhan


04 juni 2019





SUNGGUH AKU RINDU- Oleh : Yabes Ottu


-SUNGGUH AKU RINDU-
Oleh : Yabes Ottu

Sungguh aku rindu
Memelukmu erat dalam bayang
Saat mata tak ingin buntu
Tatkala mentari pagi tak lekas pulang

Sungguh aku rindu
Gelebah pun tak ingin pergi
Bagai padang pasir merindu embun
Yang tak kerap menghampiri

Sunguh aku rindu
Mata hati mengelih dalam hampa
Dalam bayang menggengam tanganmu
Mendekapmu erat dalam fatamorgana

Sungguh aku rindu
Cemas dan rindu kembali berbaris padu
Bagai rembulan merindu mentari
Bagai gendang mengharap penari

Sungguh aku rindu
Jemari menari bersama pena
Menghidupkan sebait harapan di atas kertas
Yang berdiri kokoh atas nama cinta

Aku rindu
Sungguh ini kata nuraniku
Bukan nikmat rayu



02 juni 2019



-PELANGI INDAH-
Oleh : Angel Thamariska Talan

Terimakasih derai air mata
Hadirmu merubah suasana

Pelangi indah boleh kumiliki lagi
Karena engkau yang menghampiri

Terimakasih mendung
Engkau membawa sejuk dalam kalbu

Bunga mawar
Di taman boleh mekar indah
Karena butir-butir air hujan yang jatuh

Terimakasih badai
Selamat datang pelangi
Silahkan pergi duka hati


06 juli 2019


-PELANGIKU-
Oleh : Yabes Ottu

Dikala senja menyapaku
Aku yang menyendiri tak berteman
Dalam kespian dilanda rindu
Bagai siang merindukan rembulan

Wahai pelangi tak berwarna
Hadirmu merubah suasana
Cahaya sucimu menerima gelapku
Senyum sederhana mu
Sempurna dimata ku

Terimakasih pelangi
Semuanya menjadi indah
Hadirmu menyembuhkan luka batiniah
Yang pernah tergoresi

Pelangi indah tak berwarna
Terimkasih untuk cinta
Terimkasih pemilik pelangi tak berwarna

Aku dan kamu punya masa lalu masing-masing,
tapi itu tidak penting
karena sekarang aku hanya ingin membicarakan tentang masa depan. Mulai hari ini dan seterusnya,

"MARI BERJUANG BERSAMA"
Ya, itu harapku
Mari menemui kesempurnaan

Terimkasih pelangi
Izinkan aku menjaga warna mu
Restuilah aku memilikimu
Inginkan AKU dan KAMU tak terpisahkana
Hingga akhirnya menjadi AKU dan KAMU menjadi kita

Selasa, 18 Juni 2019

HINA DIMATAMU


Rembulan wajahmu, Alangkah indah parasmu







Jangan hanya menjarah teori Perlu kolaborasi dengan aksi


-MAHASISWA-
Oleh : Yabes Ottu

Hai Mahasiswa
Mengapa berdiam disana
Tak tahukan darmamu
Ataukah engkau hanya ingin berdrama

Ektingmu cukup menawan
Terbang di awan-awan
Seolah ingin menjadi bintang
Tapi tak suka yang menantang

Mahasiswa milenial
Pupuk mental yang stabil
Siap melawan yang tidak steril
     
Kos bukan tempatmu
Itu hanya singgahan
Tempatmu ada di rumah pertemuan
Berdiskusi harus jadi kesukaanmu

Jangan hanya menjarah teori
Perlu kolaborasi dengan aksi

Fenomena harus di tanggapi
Jangan hanya berdiam diri
Seolah tak tahu apa yang terjadi









MALAIKAT TAK BERSAYAPKU-

- MALAIKAT TAK BERSAYAPKU-
Oleh : Yabes Ottu


Dalam senyummu terselip letihmu
Derita siang dan malam menimpamu
Tapi tak sedetikpun terhenti langkahmu
Engkau selalu memberi harapan bagiku

Engkau malaikat yang kebal hinaan
Tak peduli apapun yang dikatakan mereka
Selalu engkau lawan kegetiran
Demi aku menggapai cita-cita

Ayah bunda, engkau bagaikan
malaikat tak bersayap
Walaupun terkadang harus merayap
Tapi engkau tak menyerah

Tak peduli petir menyambar
Ayah, bunda tetap berjalan dengan sabar
Meski tubuhmu sudah gemetar
Tapi tak ada kata mundur

Hujan rintik
tak membuat terbit malasmu
Panas menyengat
tak jua dirasa

Hari demi hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar
di wajah mu
Semangat mu terus berkobar
Memberikan kasih sayang tiada rasa jemu

Jika engkau akan melangkah pergi
Ku tau, langkahmu penuh pengorbanan
Jika dirimu telah tiada
dirimu kan selalu di kenang
Kau adalah pahlawan tanpa lencana

Ketika ku raih kesuksesanku
Engkau tak memita emas dariku
Tak menginginkan segulung duitku
Enkau hanya ingin aku tersenyum

Dari bibirmu timbul tutur berkat bagiku
Tak jenuh, nama ku selalu dieja dalam doa
Dikala senja menyapa

Terimkasih ayah ibundaku
Tak ada harta terbaik untukmu
Hanyalah sebait doa untukmu
Semoga Tuhan memberikan hidayah bagimu







MEKARLAH DUHAI MAWAR-


-MEKARLAH DUHAI MAWAR-
Oleh : Yabes Ottu

Duhai mawar jangan gemetar
Kumbang tak akan menghabisimu
Dia hanya singgah sebentar
Aku akan menjagamu
Jangan gecar, tetaplah mekar

Mawar merah muda
Mekarmu jangan tawar
Ku kagumi pesonamu duhai mawar
Kupuja pribadimu wahai jelita
            
Kau telah mekar di hati
Lembut cinta yang kauberi
Terselip abadi di hati
Membuatku bertekuk lutut
Demi sebuah arti

Sukmaku tiada arti tanpa hadirmu
Berjanjilah tuk tetap bersama
Tetaplah berdiam dalam kalbu

Tetaplah mekar duhai mawar
Wahai jelita, teruslah megar

Tetap tersenyumlah
Jangan mengalah
Mekarmu adalah anugerah




Ketika fajar terbit Aku kembali bertekuk lutut, Sujut memberi hormat, Sambil menunggu rahmat


-DOA DI PAGI HARI-
Oleh: Yabes Ottu
(Mazmur 5)

Duhai sang kuasa
Indahkan keluh kesah insan lemah ini
Aku menjerit dalam gulita

Ketika fajar terbit
Aku kembali bertekuk lutut
Sujut memberi hormat
Sambil menunggu rahmat

Engkau raja yang adil-benar
Kejahatan engkau hajar
Si Pengecoh lawan-Mu
Penumpah darah musuh-Mu

Aku insan lemah
Tempatku di rumah-Mu ya Allah
Aku Sujut memberi hormat
Bait-Mu tempat perlindunganku
Seluruh musuh mengalah
Sebab tangan-Mu menghajar

Orang benar berasorak-sorai
Sebab engkau menaungi
Umat-Mu Engkau pagari
Anugerah-Mu bagai perisai





Sabtu, 08 Juni 2019

Kau si mata Rupiah, Berdalih Melawan sahih


-SI MATA RUPIAH-
Oleh : Yabes M. Ottu
----------------------------------

Kau si mata Rupiah
Berdalih
Melawan sahih

Si marhaen sedih !
Si marhaen mengalah !
Tapi hati mu tak luluh
Tepat, engkau si mata rupiah

Engkau si mata rupiah
Si Kucing berdasi !
Kerjanya mengibuli
Sukanya rampas nasi
Tapi tak ingin dibuli

Sukanya yang manis
Milik Marhaen dirampas
Rakyat dapat ampas
Betul, kau tak berhati emas
Sungguh, engkau bermata rupiah

Engkau si mata rupiah
Rupiah rakyat kau kumpulkan
Rakyat kembali kau lawan
Kau tak sekali ingin mengalah
Sekalipun kau di pihak salah

Rakyat cemas
Berkantor senin-kamis
Tapi sukanya yang manis-manis


Rabu, 29 Mei 2019

"BUNDA PERTIWI MANDI DARAH"
Oleh : Yabes Ottu

Kupang 24 mei 2019

-----------------------------------------------
Pendahulu menagis darah
Tak kuasa melihat tumpahan darah
Tapi anak bangsa tak peduli
Hati sosial tak ada lagi

Tanah pertiwi mandi darah
Bunda pertiwi menagis pilu
Minoritas, mayoritas tak ingin mengalah
Terombang abambing merah putih

Wahai anak bangsa, sadarlah
Kesatuan kita kian retak
Sang saka hampir robek
Pancasila di injak-injak
Negeri ini hampir tenggelam oleh darah

Kaum elit memanfaatkan yang lemah
Yang lemah takluk tak berdaya
Tiada kesejahteraan bersama
Kesejahteraan hanya milik penguasa

Berkuasa kelomlok miring
Kelompok radikalis hampir menang
Hampir kalah kelompok nasionalisme
Tak ada jiwa sosialisme

Kita tak kuat
Kita hampir hanyut
Oleh derasnya ego

Wahai mayoritas!
Wahai minoritas!
Ayo teriakan kemerdekaan !
Teriakan kesatuan !
Bangsa ini milik bersama
Bukan milik kelompok tertentu

Bersatulah !
Bergeraklah !
Kembalikan keutuhan bangsa
Kembalikan Nilai pancasila
Kembalikan kemerdekaan









- SAJAK KAMPUS II-

Oleh : Yabes Ottu

Kampus tempat idealisme bertunas
Idealisme murni tidak boleh dipangkas

Kampus tempat si pucuk berproses
Terkadang nampak bengis
Terlihat serupa kumpulan si penidas
Tapi mereka berjiwa tulus

Mahasiswa wajib kritis
Bukan hanya berusaha untuk lulus
Tapi wajib cerdas tak boleh malas
Semua harus di asah sampai mulus

Demi sepucuk kertas
Mahasiswa tak lelah mengejar prestasi
Terkadang tampak frustasi
Karena tak mampu berimajinasi
Tapi selalu hadir inspirasi

Banyak tugas tapi selalu hindari stres
Supaya boleh tetap terlihat fress
Jika tak ingin terjerumus
Maka harus butuh sejuta jurus

Kaos boleh oblong
Tapi kuliah tidak boleh kosong
Sehingga ilmu tidak kosong
Supaya berada di sistem jangan bohong

Untuk sebuah gelar
Mahasiswa tak boleh letih mengejar
Walau kilat guntur menyambar
Tapi tak ada kata mundur
Tetap harus maju tak gentar

Arena kerja bukan soal gelar
Tapi soal pengalaman yang subur
Jika tidak berpotensi pasti akan gugur
Jika tidak mujur maka pasti nganggur









-SAJAK KAMPUS-
Oleh : Yabes Ottu
-----------------------------
Dunia kampus
Tempat yang sadis
mahasiswa merasa di tindas
Walau sebenarnya tempat bertunas

Dosen terlihat egois
Tapi sebenarnaya sosialis

Terkadang mahasiswa tidak jelas
Tapi kampus berkelas
Terkadang mahasiswa berkelas
Tapi kampus tidak jelas

Demi sebuah gelar
Mahasiswa tak lelah mengejar
Walaupun terkadang lelah
Tapi bukan untuk mengalah

Terkadang tak berintegritas
Terkadang mahasiswa malas
Hidup tidak jelas
Terlalu berfoya-foya di kos

Mahasiswa belajar malas
Akan terancam drop out
Tak belajar dan beriman kuat
Maka terancam tak lulus

Wisuda cepat
bukan jaminan cepat kerja
Pintar dan berpengalaman
Merupakan jaminan masa depan




-MARHAEN TERLANTAR-
Oleh : Yabes Ottu


Hati terisaka-isak
Melihat Marhaen di injak
Yang berkuasa mengadu domba
Marhaen jadi korban

Kaum kampitalis terlalu ego
Yang berkuasa terlalu sembrono
Marhaen tak mampu merampas
Kaum ploletar dapat ampas

Dewi pertiwi di perkosa
Dijadikan panggung ego
Mereka asik memperkaya diri
Marhaenisme hampir tak dimiliki
Tak peduli pada anak pribumi

Pendahulu memenangkan bangsa
Melawan penjajah, merakit damai
Tapi kemudian diobrak-abrik
Kedamaian kian retak
Pembalut dewi pertiwi hampir robek
Tak ada teriakan MERDEKA

Kilat guntur menyabar
Yang lemah tak mampu berlindung
Si Marhaen takut gemetar
Si Marhaen semakin terlantar
Tapi egoisme tak ingin mundur










-KAMU SANG ISPIRASI-
oleh : Yabes Ottu

Hening menyapa dalam malam sepi
Teringat akan paras canti memikat hati
Dalam kesunyian imajinasi menyapa
Merindukan si canti pujaan hati

Kidung cinta mengalir tak henti
Ingin ku ubah awan gelap
Menjadi keindahan pelangi
Bersama lautan kidung api cinta suci
Di kesepian malam yang sunyi senyap

Mata terpenjam mencari ispirasi
Berimajinasi dalam sepi
Tuk hadirkan sajak syair penuh inspirasi
Paras cantik menabrak ku dalam sepi
Senyum indah mu menjadi inspirasi
Dlm setiap bait-bait puisi tak beraturanku

Sang sunyi malam gelap gulita
Perlahan berlalu bersama rembulan
Seakan tak mampu melawan
Mengisyaratkan sunyi akan berlalu
Dan menbiarkan ku menikmati cantikmu
Karna hati ku telah menjadi milikmu

Impian kecil ku kini hanya akan terjawab oleh sang waktu
Akan ku biarkan sang masa
yang menentukan jawaban doaku
Berharap mujisat berpihak padaku
Tuk bersama dirimu kelak nanti




"AYAH"

Ketika gelap malam menyapa
Aku kembali terdiam dalam kamar kecilku
Tempat yang jauh dari mu
Tempat yang sangat asing bagiku
Aku sejenak merenung kebaikanmu

Keringat hitam sucimu
Menetes membasahi tubuh kekarmu
Keringat mu menandakan perjuanganmu

Engkau tidak menyusuiku
Tapi keringatmu membesarkanku

Keriput kulit, bekas luka gores
Membuat kulit tubuhku begitu mulus
Rambut hitam mu menjadi putih suci
Membuat ku menjadi berharga kelaknanti

Ayah, engkau bukan Joko Widodo
Yang membuka jalan ke seluruh pelosok
Tapi engkau lebih hebat darinya
Kerena engkau membuka jalan masa depanku menjadi lebih baik

Demi kebahagiaan ku
Engkau berjuang atas satu alasan
Engkau ingin aku tak sepertimu
Engkau ingin kesusahan tak aku dapatkan

Terimaksi ayah atas perjuangan sucimu
Aku bangga memiliki engkau
Engkau pahlawan yang mulia
Engkau pahlawan tanpa jasa



Titisan MERAH dan PUTIH, Menghadirkan sang ksatria pancasila, Dalam rumah batik Indonesia, MERAH PUTIH,

-PANCASILA SANG KSATRIA-

Oleh : Yabes M. Ottu

Wahai pancasila ku
Siap ayahmu?
Siapa ibunda mu?
Mengapa engkau begitu tegar?

Musuh mengalah
Dikala engkau bersuara
Engkau bagaikan samurai bermata dua
Engkau membunuh tanpa menyentuh

Musuh mengongong, engkau melawan
Tak ada yang luput dari cengraman
Engkau si ksatria yang maju tak gentar
Sekalipun timah panas menyambar

Engkau satukan rakyat yang tercerai
Tak seorangpu engkau lukai
Meskipun engkau tersakiti
Tak sedikitpun engkau membenci

Setiap detak jantungmu
Membawakan damai bagi nusantara
Setiap sajak silamu menenangkan jiwa
        
Hiduplah engkau selalu pancasila
Agar bangsa indonesia tetap jaya
Jangan pernah mati
Jangan menyerah oleh apapun juga
Tetaplah bersama rakyatmu sang ksatria

Pancasila
Engkau ksatria tak berkuda
Engkau memerdekakan rakyat
Sampai akhir hayat

Wahai engkau, ayah pancasila
Dan engkau, ibunda pancasila
Terimakasih atas tetesan sperma suci mu
Serta tetesan darah perawanmu
Yang meciptakan seorang ksatria muda

Titisan MERAH dan PUTIH
Menghadirkan sang ksatria pancasila
Dalam rumah batik Indonesia
MERAH PUTIH

Untukmu ayah serta ibunda ksatria
Terimalah salam hormatku






Gibran Rakabuming Raka DiUsung Bacawapres Adalah Politik Dinasti Bukan Perwakilan Anak Muda

Gibran Rakabuming Raka Diusung Bacawapres Adalah Politik Dinasti Bukan Perwakilan Anak Muda Oleh : Yabes Ottu Pemilu sudah diambang pintu. P...