Rabu, 29 Mei 2019

"BUNDA PERTIWI MANDI DARAH"
Oleh : Yabes Ottu

Kupang 24 mei 2019

-----------------------------------------------
Pendahulu menagis darah
Tak kuasa melihat tumpahan darah
Tapi anak bangsa tak peduli
Hati sosial tak ada lagi

Tanah pertiwi mandi darah
Bunda pertiwi menagis pilu
Minoritas, mayoritas tak ingin mengalah
Terombang abambing merah putih

Wahai anak bangsa, sadarlah
Kesatuan kita kian retak
Sang saka hampir robek
Pancasila di injak-injak
Negeri ini hampir tenggelam oleh darah

Kaum elit memanfaatkan yang lemah
Yang lemah takluk tak berdaya
Tiada kesejahteraan bersama
Kesejahteraan hanya milik penguasa

Berkuasa kelomlok miring
Kelompok radikalis hampir menang
Hampir kalah kelompok nasionalisme
Tak ada jiwa sosialisme

Kita tak kuat
Kita hampir hanyut
Oleh derasnya ego

Wahai mayoritas!
Wahai minoritas!
Ayo teriakan kemerdekaan !
Teriakan kesatuan !
Bangsa ini milik bersama
Bukan milik kelompok tertentu

Bersatulah !
Bergeraklah !
Kembalikan keutuhan bangsa
Kembalikan Nilai pancasila
Kembalikan kemerdekaan









- SAJAK KAMPUS II-

Oleh : Yabes Ottu

Kampus tempat idealisme bertunas
Idealisme murni tidak boleh dipangkas

Kampus tempat si pucuk berproses
Terkadang nampak bengis
Terlihat serupa kumpulan si penidas
Tapi mereka berjiwa tulus

Mahasiswa wajib kritis
Bukan hanya berusaha untuk lulus
Tapi wajib cerdas tak boleh malas
Semua harus di asah sampai mulus

Demi sepucuk kertas
Mahasiswa tak lelah mengejar prestasi
Terkadang tampak frustasi
Karena tak mampu berimajinasi
Tapi selalu hadir inspirasi

Banyak tugas tapi selalu hindari stres
Supaya boleh tetap terlihat fress
Jika tak ingin terjerumus
Maka harus butuh sejuta jurus

Kaos boleh oblong
Tapi kuliah tidak boleh kosong
Sehingga ilmu tidak kosong
Supaya berada di sistem jangan bohong

Untuk sebuah gelar
Mahasiswa tak boleh letih mengejar
Walau kilat guntur menyambar
Tapi tak ada kata mundur
Tetap harus maju tak gentar

Arena kerja bukan soal gelar
Tapi soal pengalaman yang subur
Jika tidak berpotensi pasti akan gugur
Jika tidak mujur maka pasti nganggur









-SAJAK KAMPUS-
Oleh : Yabes Ottu
-----------------------------
Dunia kampus
Tempat yang sadis
mahasiswa merasa di tindas
Walau sebenarnya tempat bertunas

Dosen terlihat egois
Tapi sebenarnaya sosialis

Terkadang mahasiswa tidak jelas
Tapi kampus berkelas
Terkadang mahasiswa berkelas
Tapi kampus tidak jelas

Demi sebuah gelar
Mahasiswa tak lelah mengejar
Walaupun terkadang lelah
Tapi bukan untuk mengalah

Terkadang tak berintegritas
Terkadang mahasiswa malas
Hidup tidak jelas
Terlalu berfoya-foya di kos

Mahasiswa belajar malas
Akan terancam drop out
Tak belajar dan beriman kuat
Maka terancam tak lulus

Wisuda cepat
bukan jaminan cepat kerja
Pintar dan berpengalaman
Merupakan jaminan masa depan




-MARHAEN TERLANTAR-
Oleh : Yabes Ottu


Hati terisaka-isak
Melihat Marhaen di injak
Yang berkuasa mengadu domba
Marhaen jadi korban

Kaum kampitalis terlalu ego
Yang berkuasa terlalu sembrono
Marhaen tak mampu merampas
Kaum ploletar dapat ampas

Dewi pertiwi di perkosa
Dijadikan panggung ego
Mereka asik memperkaya diri
Marhaenisme hampir tak dimiliki
Tak peduli pada anak pribumi

Pendahulu memenangkan bangsa
Melawan penjajah, merakit damai
Tapi kemudian diobrak-abrik
Kedamaian kian retak
Pembalut dewi pertiwi hampir robek
Tak ada teriakan MERDEKA

Kilat guntur menyabar
Yang lemah tak mampu berlindung
Si Marhaen takut gemetar
Si Marhaen semakin terlantar
Tapi egoisme tak ingin mundur










-KAMU SANG ISPIRASI-
oleh : Yabes Ottu

Hening menyapa dalam malam sepi
Teringat akan paras canti memikat hati
Dalam kesunyian imajinasi menyapa
Merindukan si canti pujaan hati

Kidung cinta mengalir tak henti
Ingin ku ubah awan gelap
Menjadi keindahan pelangi
Bersama lautan kidung api cinta suci
Di kesepian malam yang sunyi senyap

Mata terpenjam mencari ispirasi
Berimajinasi dalam sepi
Tuk hadirkan sajak syair penuh inspirasi
Paras cantik menabrak ku dalam sepi
Senyum indah mu menjadi inspirasi
Dlm setiap bait-bait puisi tak beraturanku

Sang sunyi malam gelap gulita
Perlahan berlalu bersama rembulan
Seakan tak mampu melawan
Mengisyaratkan sunyi akan berlalu
Dan menbiarkan ku menikmati cantikmu
Karna hati ku telah menjadi milikmu

Impian kecil ku kini hanya akan terjawab oleh sang waktu
Akan ku biarkan sang masa
yang menentukan jawaban doaku
Berharap mujisat berpihak padaku
Tuk bersama dirimu kelak nanti




"AYAH"

Ketika gelap malam menyapa
Aku kembali terdiam dalam kamar kecilku
Tempat yang jauh dari mu
Tempat yang sangat asing bagiku
Aku sejenak merenung kebaikanmu

Keringat hitam sucimu
Menetes membasahi tubuh kekarmu
Keringat mu menandakan perjuanganmu

Engkau tidak menyusuiku
Tapi keringatmu membesarkanku

Keriput kulit, bekas luka gores
Membuat kulit tubuhku begitu mulus
Rambut hitam mu menjadi putih suci
Membuat ku menjadi berharga kelaknanti

Ayah, engkau bukan Joko Widodo
Yang membuka jalan ke seluruh pelosok
Tapi engkau lebih hebat darinya
Kerena engkau membuka jalan masa depanku menjadi lebih baik

Demi kebahagiaan ku
Engkau berjuang atas satu alasan
Engkau ingin aku tak sepertimu
Engkau ingin kesusahan tak aku dapatkan

Terimaksi ayah atas perjuangan sucimu
Aku bangga memiliki engkau
Engkau pahlawan yang mulia
Engkau pahlawan tanpa jasa



Titisan MERAH dan PUTIH, Menghadirkan sang ksatria pancasila, Dalam rumah batik Indonesia, MERAH PUTIH,

-PANCASILA SANG KSATRIA-

Oleh : Yabes M. Ottu

Wahai pancasila ku
Siap ayahmu?
Siapa ibunda mu?
Mengapa engkau begitu tegar?

Musuh mengalah
Dikala engkau bersuara
Engkau bagaikan samurai bermata dua
Engkau membunuh tanpa menyentuh

Musuh mengongong, engkau melawan
Tak ada yang luput dari cengraman
Engkau si ksatria yang maju tak gentar
Sekalipun timah panas menyambar

Engkau satukan rakyat yang tercerai
Tak seorangpu engkau lukai
Meskipun engkau tersakiti
Tak sedikitpun engkau membenci

Setiap detak jantungmu
Membawakan damai bagi nusantara
Setiap sajak silamu menenangkan jiwa
        
Hiduplah engkau selalu pancasila
Agar bangsa indonesia tetap jaya
Jangan pernah mati
Jangan menyerah oleh apapun juga
Tetaplah bersama rakyatmu sang ksatria

Pancasila
Engkau ksatria tak berkuda
Engkau memerdekakan rakyat
Sampai akhir hayat

Wahai engkau, ayah pancasila
Dan engkau, ibunda pancasila
Terimakasih atas tetesan sperma suci mu
Serta tetesan darah perawanmu
Yang meciptakan seorang ksatria muda

Titisan MERAH dan PUTIH
Menghadirkan sang ksatria pancasila
Dalam rumah batik Indonesia
MERAH PUTIH

Untukmu ayah serta ibunda ksatria
Terimalah salam hormatku






Gibran Rakabuming Raka DiUsung Bacawapres Adalah Politik Dinasti Bukan Perwakilan Anak Muda

Gibran Rakabuming Raka Diusung Bacawapres Adalah Politik Dinasti Bukan Perwakilan Anak Muda Oleh : Yabes Ottu Pemilu sudah diambang pintu. P...