HARTA DARI AYAH UNTUKKU
Cerpen Karangan: Yabes Ottu
Kategori: Cerpen Keluarga
Malam ini aku dan keempat saudara ku serta Ayah dan Ibu duduk mengelilingi meja makan yang diatas meja tersebut telah tersedia hidangan makan malam seadanya yang telah disediakan oleh ibu.
Dari sudut meja makan dengan suara yang lembut, ibu mempersilahkan untuk kami menikmati hidangannya. Kami bergantian mengambil hidangan ini diatas meja sederhana diruang keluarga yang berukuran kecil kami yang kami miliki. Suasan bahagiapun semakin lengkap ketika adik bungsu ku bersedia memimpin doa makan kami dengan mengejakan doa Bapak kami. Selesai adikku memimpin doa makan, kami langsung menikmati hidangan sederhana yang disediakan oleh ibu yang tidak kalah lezat dengan makan restoran bintang lima.
Setelah selesai menikamti santap makan malam seperti biasa aku dan ayah masih duduk bersama. Ya, setidaknya sedikit mengisi waktu malam dengan mendengarkan kata-kata nasihat dari ayah untukku dan menikmati kopi panas yang telah disipakan oleh ibu. Sedangkan ibu dan keempat adik-adikku memilih untuk istirahat karena lelah dengan aktifitas seharian.
Setelah ibu dan keempat adik-adiku menuju kamar tidur. Kini hanya aku dan ayah yang masih duduk diruang keluarga kecil kami.
“Aku adalah ayahmu dan kamu adalah putra sulungku dan engkau yang akan mendapatkan tenagaku.” Ucap laki-laki yang kerap disapa Bapak Mizz itu.
Perkataan itu sedikit sederhana namun membuat aku terharu dan sedikit membuncah. Pikirku ayah mungkin masih kesal karena tadi siang aku sedikit lalai dalam mengerjakan pekerjaan yang ditugaskan keluarga padaku sehingga ayah harus turut membantu dalam menyelesaikan.
Dengan tatapan yang tajam namun terlihat dari balik kelopak matanya meneteskan air kasih sayang.
Katanya lagi padaku "Erki, engkau yang akan memiliki segala yang aku punya saat ini".
Aku yang duduk di kursi tua itu semakin membisu seolah disihir oleh kata-kata ayahku.
Aku ingin sekali mengucapkan terimkasih namun aku tak ingin ucapakanku membuat ayah berhenti mengucapkan kata-kata berkatnya padaku. Aku hanya bisa terdiam menatap ayahku dengan penuh kasih. Ayahku yang tadinya berbica kembali terdiam dan menyeka matanya karena air matanya mengalir membasahi pipi yang sedikit keriput itu.
Setelah terdiam sejenak ayahku melanjutkan pembicaraannya. Kali ini ia berkata " nak, maksud dari ucapan tadi bukan harta karun yang akan aku berikan kepadamu namun yang aku maksudka adalah tenagaku. Dengan sisa tenaga yang Tuhan masih percayakan kepadaku serta kereta lapuk yang kita miliki, aku akan menyelusuri setiap lorong-lorong keramaian kota untuk mencari besi tua untuk menukar dengan sepeser rupiah ke juragan besi tua supaya engaku serta adik-adikmu bisa sekolah dan selebihnya untuk membiayai kebutuhan keluarga kita".
Aku yang mendengarkan apa yang baru saja dikatakan ayahku itu semakin membisu, namun air mataku mengalir mengisyaratkan bahwa aku sedang mengucapkan terimkasih kepada ayahku.
Ayahku yang sempat melihat air mata ku itu tak ingin berhenti berbicara.
Lanjut ayahku berkata " kita keluarga miskin nak, namun aku tak ingin kelak engkau kekurangan seperti aku. Yang aku inginkan sekarang adalah engkau serta adik-adikmu harus sukses".
Aku yang mendengar, seakan ingin berbicara namun baru saja aku menarik nafas dan berbicara, ayah memotong. Kali ini ia berkata, "kuatkan hatimu karena aku masih bisa berjuang karena tenagaku yang masih tersisa akan aku berikan sebagai harta untuk menjamin masa depanmu serta adik-adikmu".
Mendengar itu, aku berkata pada ayahku " ayah, apa yang bisa aku lakukan untuk membantu ayah?".
Ayahku yang duduk di depanku dengan tatapan yang terlihat tulus ia berkata "Erki, aku tak meminta balasan darimu yang aku minta adalah tetaplah berjuang dalam masa pendidikanmu dan jangan lupa membawa namaku dalam setiap doa tidur malam mu, supaya Tuhan dapat selalu membuka jalan bagiku dalam setiap pekerjaan ku supaya dapat membiayai engkau serta adik-adikmu di bangku pendidikan supaya kelak engkau serta adik-adikmu sukses". Kali ini aku hanya bisa meneteskan air mata pilu.
Dan hanya mampu berkata "Terimkasih ayah untuk perjuanganmu. Doaku memelukmu selalu ayah".
Ayahku yang tak kuasa melihat aku meneteskan air mata . Dia kembali mengancungkan kepalan tangan kiri sebagai isyarat untuk tetap semangat.
Lanjut Ia berkata "nak persiapkan keperluan kuliahmu setelah itu kamu boleh istirahat karena besok kamu harus pergi ke kampus pagi".
Aku yang tadinya duduk disebelah ayah lansung bergegas menuju meja belajar kecilku yang dibuat oleh ayahku sendiri dari sisa-sisa papan yang diminta dari tetangga rumahku. Karena aku tahu ayahku tak ingin melihat aku menangis sehingga ia mengalihkan suasana dengan menyuruhku mempersiapkan keperluan untuk kuliah besok.
.
Semoga kisah ini bermanfaat bagi aku dan kamu. Tuhan Memberkati Kita semua😊