Kamis, 29 Juni 2023

SELESAI !!

SELESAI ... ! 

Raga ku kaku terbujur, 
diatas badan jalan tak bernyawa. 
Duri-karikil tak ingin hancur lebur, 
dan asa seakan tekubur. 

Dunia sungguh kejam bermain mata, 
Saat jiwa sedang merajut asa. 
Setalah sayap-sayap waktu dikepang tinggi, namun aku dipukulnya menepi. 

Aku bersumpah demi semesta, 
Selama nadi berdetak berdaya, 
Sayap-sayap mungil ku akan mengudara, 
Aku akan berpijak kembali ke angkasa. 

Aku berjani demi semesta, 
Disini tempat tertanam darah dan pusar, 
Akan menjadi pijakan awal menuju garis akhir, diatas tanah ini tiang panji akan berkibar. 

Aku berjanji demi kehidupan, 
 di atas bumi yang memberi kehidupan, Keadilan akan ku menangkan, 
Sampai titik darah penghabisan. 

Dunia fana, 
Aku begitu meyakini bahwa sesungguhnya,
Aku berjanji dan semesta tahu apa yang diperbuat, 
Ingkat pada janji adalah jalan menuju maut.

 Dan disana, 
Setelah aku berdiri kokoh di atas tanah keadilan, 
Aku akan memproklamirkan janji atas semesta, dan akan ku akhiri itu dengan kata "Selesai .. !". 


Yabes Merkido Ottu 
Kupang,(022223) 

Minggu, 13 Oktober 2019

     

AKU INGIN ENGKAU ADA
Oleh: Yabes Ottu

Aku ingin engkau ada
Seperti pintu kamarku yang selalu terbuka
Dikala aku ada
Tertutup dikala aku sedang tak disana

Aku ingin engkau ada
Seperti ranjangku yang menerima tubuhku
Dikala aku terjebak dalam kantukku
Dan melepas namun setia menunggu aku

Aku ingin engkau ada
Seperti minyak wangiku
Yang selalu kukenal ketika kucium harumnya
Walaupun wanginya
Terhimpit dalam banyaknya wangi-wangian

Aku ingin engkau ada
Yang selalu ada
Dan yang selalu aku kenal
Walaupun semua seakan tak ada



Jumat, 11 Oktober 2019


-TERIMKASI SENJA-

Terimkasih senja yang indah
Warna merah tak membawa gerah
Sejuk tapi membawa dingin pada raga
Jiwapun ikut merasa

Teriakasih senja yang indah
Hadir dalam suasan resah
Tapi tak gagabah
Tak menghadirkan salah

Selamat jalan senja
Aku akan merindukan cerita kita
Tapi Ini adalah takdir
Dan aku akan tetap tegar
Harapku engkau juga tetap mekar

Selamat jalan senja
Kepergiaan senja meninggalkan rindu
Mungkin rebulan akan mengobati
Mungkin juga akan menemani






        
DALAM SUJUTKU PUN AKU BERDOSA
Oleh : Yabes Ottu

"Sadar dalam lemah". Ya, dalam sujut tak beraturan disitulah awal aku mendapati jiwa dan ragaku dalam gelapnya dosa.

Dalam syair yang aku lafalkan terselip berlaksa kegelapan. Kutemui diri ini dalam "sujut tak beraturan".

Entahlah, kapan dan dan dimana aku memulai merefleksikan hal sederhana ini. Mungkin disaat mentari tak lagi bersinar atau mungkin rembulan berisitirahat dari aktifitas malamnya atau mungkin dalam kesunyianku.
Akupun tak tahu namun yang pasti bahwa dalam melafalkan puisi tobat pada Tuhan disitulah dosa dimulai.

Aku terdapat dalam kelalaian dalam memenuhi janji tobat itu.

Dalam sujut aku berdosa. Terjebak dalam puisi yang kunaikan pada sang pemilik jiwa serta raga.

Ah, aku malu..
Malu sekali pada diriku yang penuh noda duniawi yang sempat kugoreskan pada dinding jalan kehidupan.

Gelisah tak menentu. Aku tak lagi mampu bebas. Ya, aku terjebak dalam noda kehidupan yang aku ciptakan sendiri.

Dalam kesunyian dibawah kolong lagit bentukan jemari kasih Tuhan aku terjebak tak mampu memilih. Tersendat dalam jalan-jalan ku sendiri.

Oh, malangnya hidupku. Dalam sujut doapun aku berdosa. Dalam pujian pada Sang Allahpun aku menyelipkan noda hitam.

Aku terjebak dalam sujut tak beraturan.

Antara takut dan harapan pun terombang-ambing.

Takutku adalah jika sujutku tak lagi dipandang oleh Sang Ilahi. Takutku jika nyanyainku tak lagi di nikmati Tuhan.

Harapanku adalah Tuhan mendengar keluh kesah manusia fana.

Dua paham yang saling menuduh. Saling merongrong ingin menang dan yang pasti aku yang terjebak.

Jika aku memilih maka disitu dosa dimulai. Aku pasti lalai dalam cobaan iman.

Jiwa berkata "jangan takut, turutilah kebenaran".

Ragapun membalas "Tapi aku lemah".

Jiwa dan raga berkelahi dalam satu rumah kehidupan.

Mereka bertengkar dan kehidupan terbeban. Antara mati dalam dosa atau hidup dalam dosa. Ataukah dosa mati dalam hidup.








Gibran Rakabuming Raka DiUsung Bacawapres Adalah Politik Dinasti Bukan Perwakilan Anak Muda

Gibran Rakabuming Raka Diusung Bacawapres Adalah Politik Dinasti Bukan Perwakilan Anak Muda Oleh : Yabes Ottu Pemilu sudah diambang pintu. P...